Jumat, 23 Desember 2011

nyaya dalam hindu.


Pembahasan

pengertian nyaya.
            Nyaya mengajarkan cara-cara mengembangkan logika dan penalaran untuk mencapai kebenaran. Pembicaraan tentang system falsafah ini dimulai dengan sebuah seloka,
”Drsyate twagyaya buddhya suksmaya suksma darsibhih”
yang artinya, “Segala sesuatu atau jiwa diamati oleh pengamat yang cendekia dengan kecerdasan pikirannya yang tajam dan lembut”.
 Maka dari itu Arti etimologis nyaya, ialah ’kembali’, maksudnya mencari kembali kebenaran melalui argumentasi. Falsafah Nyaya bersifat intelektual dan analitis. Vatsyayana mengembangkan sistem ini berdasarkan ajaran Rsi Gautama (abad ke-4 SM) dalam bukunya Aksapada dan Dirghatapas. Buku Vatsyayana yang memuat ajaran falsafah Nyaya ialah Nyaya Bhasya (Ulasan Tentang Nyaya).
             Menurut pengasasnya sistem falsafah ini lahir disebabkan adanya serangkaian pembicaraan dan perdebatan sehubungan penafsiran terhadap seloka-seloka dalam Veda Sruti. Pencarian makna dari seloka-seloka tersebut diperlukan sebagai pedoman penyelenggaraan upacara yajna (kurban).Tokoh-tokoh falsafah Nyaya setelah Rsi Gautama dan Vatsyayana ialah Sri Kantha, yang mengarang buku Nyaya Lankara;, Jayantha dengan bukunya Nyaya Manjari; Govardhana dengan bukunya Nyaya Boddhini; Vacaspathi Misra dengan bukunya Nyaya Varttika Tatparya Tika dan Udayana dengan bukunya Nijaya Kusumanjali. Pada abad ke-12 M di Bengali, India Selatan, muncul aliran Nyaya Baru (Navya Nyaya) dipelopori oleh Gangesa Misra. Namun aliran yang dikembangkan Gangesa sebenarnya merupakan perombakan terhadap Vaishesika.

           
Nyaya merupakan alat utama untuk meyakini sesuatu dengan penyimpulan yang tak terbantahkan, yang dilalui dengan pengujian dengan berbagai argumentasi dan melewati berbagai perbantahan sehingga membentuk suatu keyakinan yang penuh.  Menurut konsep Nyaya, pengetahuan menyatakan 4 kadaan, yaitu :
  1. Subyek atau si pengamat (pramata)
  2. Obyek (Prameya)
  3. Keadaan hasil dari pengamatan (Pramiti)
  4. Cara mengetahui (Pramana)

Obyek yang diamati (Prameya) berjumlah 12, yaitu :
  1. Roh (Atman)
  2. Badan (Sarira)
  3. Indriya
  4. Obyek Indriya (Artha)
  5. Kecerdasan (Buddhi)
  6. Pikiran (Manas)
  7. Kegiatan (Pravrrthi)
  8. Kesalahan (dosa)
  9. Perpindahan (Pretyabhava)
  10. Buah atau hasil (Phala)
  11. Penderitaan (Duhkha)
  12. Pembebasan (Apawarga)
Nyaya darsana yang bertindak pada garis ilmu pengetahuan, menghubungkan Vaisesika pada tahapan dimana materi-materi spiritual (adhyatmika) seperti: jiwa (roh pribadi), jagat (alam semesta), Isvara (Tuhan), dan Moksa (pembebasan), yang disbut Apawarga oleh Vaisesika. Nyaya dan Vaisesika mempercayai Tuhan yang berpribadi, kejamakan dari roh dan alam semesta yang berupa atom-atom. Nyaya Darsana mendiskusikan kebenaran mendasar melalui bantuan 4 cara pengamatan (Catur Pramana) :
  • Pratyaksa pramana (pengamatan langsung).
  • Anumana pramana (melalui penyimpulan).
  • Upamana pramana (melalui perbandingan).
  • Sabda pramana (melalui penyaksian).

Mimamsa memberikan uraian terkait dengan upacara-upacara yang terdapat dalam Weda, memberikan interpretasi makna yang terkandung dalam upacara Weda, dari segi urutan, fungsi serta makna yang terkandung. Cara mengungkapkannya itu dilakukan dengan sistematis dan sesuai dengan hukumhukum yang diakui ilmiah untuk mendapatkan kebenaran dalam ajaran Mimamsa.

































Daftar Pustaka

Manik Mas, Rsi Bintang Dhanu dan Djoni Gingsir, tt. Babad Catur Brahmana.
Babad Bali Agung.
Sivananda, Shri Svami, 2003. Intisari Ajaran Agama Hindu. Alih Bahasa Yayasan
Sanatana Dharmasrama, Surabaya: Paramita.
Suardeyasa, IGN, 2007. bali Bercermin pada Mimamsa dan Wedanta. Jakarta:
PeFalsafah Nyaya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar